TELAAH KRITIS EDARAN KWARNAS

TELAAH KRITIS EDARAN KWARNAS NO. 0015

Bagikan Konten Kami

TELAAH KRITIS EDARAN KWARNAS – Judul lengkap edaran dimaksud adalah “Edaran Kwarnas Gerakan Pramuka No. 0015-00-D tentang Kebijakan Implementasi Permendikdasmen No.13 tahun 2025”

Secara pribadi dari awal sejatinya saya tidak ingin menelaah edaran ini. Untuk apa juga.

Namun setelah seorang kawan menunjukkan dan meminta pendapat Bagian II Nomor 2c dari edaran ini yang berbunyi, “satuan pendidikan formal berkewajiban membentuk Gudep sebagai tempat penyelenggaraan ekstrakurikuler” keinginan untuk melakukan penelaahan muncul. Kalimat ini mendorong rasa ingin tahu. Kalimat “agak lain”

Secara hipotesis, kalimat di atas berisiko “mengamputasi’ jejak historis, metodologis, serta pedagogis pendidikan kepramukaan sebagai sistim pendidikan non formal yang otonom. Juga dapat mereduksi Gudep hanya menjadi bagian dari sistim pendidikan sekolah bersama kegiatan kurikuler dan kokurikuler.

Dalam perspektif UU GP kalimat diatas dapat mendekonstruksi posisi Gerakan Pramuka sebagai lembaga pendidikan nonformal yang menjadi bagian dari sistim pendidikan nasional, hanya menjadi bagian dari sistim pendidikan formal (sekolah) semata.

Apakah hipotesis di atas terbukti? Hasil telaah, sebagaimana tercantum dalam Bagian 1 buku ini, menunjukkan bahwa Pendidikan Kepramukaan dengan segala keunikannya, tidak efektif jika hanya dijadikan sebagai wadah kegiatan ekstrakurikuler. Langkah semacam ini, alih-alih membawa manfaat bagi peserta didik, malah berpotensi menambah beban belajar siswa.

Untuk memperkaya perspektif, buku ini juga dilengkapi dengan telaah Keputusan Kemendikbud No. 63 tahun 2014, era Pak Menteri M. Nuh. Keputusan ini dianggap ideal karena memberi ruang kepramukaan sebagai ekstrakurikuler melalui sistim aktualisasi dan blok, dengan tetap memberi otonomi Gudep melalui sistim reguler.

TELAAH KRITIS EDARAN KWARNAS
TELAAH KRITIS EDARAN KWARNAS

Kelemahan Permendikbud 63 adalah pada implementasi seperti ketiadaan road map, buku panduan, bahan ajar dan model kolaborasi antara Guru Mapel dan Pembina Pramuka. Konsep ideal untuk menerapkan strategi Cross Domain Education ini, gagal memenuhi target.

Pada bagian 2, buku telaah ini, menawarkan sebuah model penguatan Gudep sebagai Lingkungan Pendidikan ke tiga Penguatan ini perlu dilakukan dengan meningkatkan kualitas melalui strategi “esensial branding Gudep” dan pentingnya Gudep merumuskan educational proposal” yang memiliki nilai guna tinggi dan mampu meyakinkan orang tua, Kamabigus dan peserta didik.

Dengan strategi di atas Gudep diharapkan tidak lagi dianggap beban bagi sekolah tetapi menjadi mitra strategis dalam meningkatkan kualitas layanan pendidikan dalam sebuah ekosistem pendidikan yang solid dan saling mengisi antara sistim pendidikan formal dan non formal.

Pada bagian akhir buku ini. saya sisipkan surat kecil untuk Bastian di Jarebu, Ngada, NTT. Seandainya Gudep bisa eksis sebagai lingkungan pendidikan ke 3, mungkin Bastian masih bersama kita. Tapi kenyataan berkata lain. Kisah Bastian menorehkan kepedihan mendalam bagi setiap orang yang berjiwa pendidik di negeri ini.

Akhirnya telaah interteks dengan bantuan Ai ekosistem goggle ini, semoga membawa manfaat dan dapat memantik diskusi demi kebaikan bersama. Saran, kritik, koreksi, masukam, dst, akan diterima dengan kebesaran hati sebagai bagian dari dialektika akademik. Dialektika yang harus terus ditumbuhkan jika GP ingin maju juga jika GP ingin memperkaya keputusan2 strategisnya dengan pendekatan teknokratis.

Hasil telaah selengkapnya dapat Kakak2 baca pada buku di bawah ini. Salam.

Anis Ilahi Wh
Purna Dewan Kerja Yogya

TELAAH KRITIS EDARAN KWARNAS

Dokumen 73 Lembar

Advertisements

Yuk gabung Whatsapp Channel kami!
Follow kami di Telegram! & Instagram

Bagikan Konten Kami

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *