Sejarah Singkat Pramuka di Indonesia

Pramuka memiliki kepanjangan Praja Muda Karana, yang memiliki arti suatu rakyak yang suka berkarya. Sejarah singkat Pramuka di Indonesia dari semenjak berdiri sampai saat ini sangat berkembang pesat. Gerakan Pramuka Indonesia merupakan nama suatu organisasi pendidikan nonformal yang kemudian menyelenggarakan pendidikan kepanduan dan dilaksanakan serentak se Indonesia.

Sedangkan untuk pengertian Kepramukaan sendiri yaitu sebuah sistem pendidikan yang telah disesuaikan dengan keadaan, kepentingan dan juga perkembangan masyarakat bangsa Indonesia. Pada intinya bahwa pendidikan kepanduan merupakan proses pendidikan di luar lingkungan sekolah dan keluarga di dalam bentuk yang cukup menarik, sehat, menyenangkan, teratur dan terarah.

Sejarah Singkat Pramuka

Sejarah Singkat Pramuka di Indonesia tidak Lepas dari Sosok Bapak Pandu Dunia

Dalam Prinsip Dasar Keparmukaan dan Metode Kepramukaan bertujuan untuk membentuk karakter yang baik, berakhlak dan berbudi pekerti yang luhur. Sejarah Pramuka di Indonesia tidak terlepas dari gagasan seorang sosok Bapak Pandu Sedunia yaitu Baden Powel.

Baden Powell telah menuliskan pengalamannya dalam melakukan pembinaan para remaja di negara Inggris di sebuah buku yang berjudul “Scout for Boys). Buku tersebut menceritakan tentang gerakan kepanduan atau kepramukaan secara lengkap. Ide cemerlang yang ditulisakan oleh Baden Powell tersebut menyebar ke berbagai negara, termasuk Netherland (Belanda) dengan nama “Padvinder”.

Gagasan tersebut kemdian di bawa ke Indonesia oleh orang Belanda yang merupakan wilayah jajahannya. Sehingga pada saat itu didirikan sebuah oraganisasi yang bernama Nederand Indische Padvinders Vareeniging (NIPV) atau Persatuan Pandu- Pandu Hindia Belanda.

Sejarah telah mencatat bahwa gerakan pramuka atau kepanduan tersebut turut berperan aktif dalam konggres pemuda pada tanggal 28 Oktober 1928. Pada saat itu dicetuskannya sumpah pemuda sehingga membuat kegiatan kepramukaan atau kepanduan di Indonesia menjadi semakin berkembang.

K.H Agus Salim mencetuskan sebuah ide cemerlang yaitu untuk mengganti nama Padvinders dengan nama Pandu atau Kepanduan, hal itu terjadi setelah adanya larangan Pemerintah Hindia Belanda menggunakan kata istilah Padvindery.

Karena peningkatan kesadaran nasional yang terjadi setelah Sumpah Pemuda, maka pada tahun 1930 organisasi kepanduan seperti PK (Pandu Kesultanan), IPO dan PPS (Pandu Pemuda Sumtra) bergabung menjadi satu organisasi yaitu KBI (Kepanduan Bangsa Indonesia).

Nama Gerakan Pramuka Indonesia

Mulai dari tahun 1950 sampai 1960 telah banyak organisasi kepanduan yang berdiri dan tumbuh pesat di Indonesia. Terdapat 100 organisasi kepanduan yang terhimpun dala tiga wadah federasi organisasi antara lain POPPINDO, IPINDO dan PKPI. Sehingga pada tanggal 9 Maret 1961 Presiden Soekarno memberikan sebuah amanat tentang peimpinan pandu di Istana Merdeka.

Di dalam amanatnya, Presiden Soekarno menyatakan pembubaran untuk semua oarganisasi kepanduan yang ada di Indonesia dan kemudian menciptakan sebuah organisasi baru yang bernama Gerakan Pramuka dengan sebuah lambang tunas kelapa.

Degan banuan Perdana Menteri Ir. Juanda, perjuangan tersebut menghasilkan keppres No.238 pada tahun 1961 mengenai Gerakan Pramuka dan pada tanggal 20 Mei tahun 1961 diitandatangani oleh Pjs. Presiden Republik Indonesia. Karena pada saat itu Presiden Soekarno sedang melakukan kunjungan ke Negara Jepang.

Sejak itulah, pada tanggal 14 Agustus 1961 ditetapkan sebagai Hari Pramuka dan setiap tanggal 14 Agustus diadakan upacara untuk memperingati Hari Pramuka. Bahkan di berbagai sekolah mulai dari tingkat dasar hingga tingkat menengah selalu diadakan acara perkemahan pada tanggal tersebut.

Pendidikan Kepramukaan di Indonesia merupakan salah satu pendidikan nasional penting yang wajib diterapkan kepada para siswa di sekolah. Karena Kepramukaan menjadi salah satu sejarah penting bangsa Indonesia untuk mewujudkan pemuda pemudi yang cerdas, kreatif dan berbudi pekerti. Untuk itu generasi penerus bangsa wajib mengetahui sejarah singkat Pramuka di Indonesia.

Foto: @revasafita

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *