Physical Address
304 North Cardinal St.
Dorchester Center, MA 02124
Physical Address
304 North Cardinal St.
Dorchester Center, MA 02124


Pramuka Anti Diskusi – Gerakan Pramuka seringkali diidentikkan dengan baris-berbaris, tepuk tangan serempak, dan kepatuhan tanpa syarat. Citra ini, meskipun tidak sepenuhnya salah, menjadi berbahaya ketika diaplikasikan secara membabi buta dalam proses pembinaan.
Sebuah gambar yang beredar di kalangan pegiat pramuka (gambar kami tentunya) menyentil dengan keras: “Kalau pembina alergi terhadap diskusi dan peserta cuma diajak tunduk, Pramuka telah gagal jadi tempat tumbuhnya warga negara yang cerdas.” Kritik ini menohok langsung ke jantung persoalan: apakah kita sedang menciptakan robot yang patuh atau manusia yang berpikir? Di tengah tantangan zaman yang menuntut pemikiran kritis dan inovatif, fenomena Pramuka anti diskusi menjadi alarm pengingat yang serius bagi masa depan gerakan ini.

Pendidikan kepramukaan, pada esensinya, adalah sebuah laboratorium sosial untuk menempa pendidikan karakter. Tujuannya bukan sekadar melatih keterampilan bertahan hidup di alam liar, tetapi juga keterampilan bertahan dan berkembang dalam peradaban. Keterampilan ini mustahil tumbuh dalam ruang hampa yang steril dari perdebatan, pertanyaan, dan bahkan perbedaan pendapat.
Ketika seorang pembina memposisikan diri sebagai sumber kebenaran tunggal yang tak terbantahkan, ia secara tidak sadar sedang mematikan potensi terbesar dari para peserta didiknya: kemampuan untuk berpikir mandiri. Artikel ini akan mengupas secara mendalam bahaya dari budaya anti-diskusi dalam Pramuka dan bagaimana seharusnya peran pembina Pramuka dijalankan untuk benar-benar melahirkan warga negara cerdas.
Table of Contents
Salah satu prinsip dasar dalam metode kepramukaan adalah sistem beregu (patrol system), di mana peserta didik belajar untuk bekerja sama, memimpin, dan dipimpin dalam kelompok kecil. Sistem ini secara inheren mendorong adanya interaksi, negosiasi, dan diskusi. Namun, prinsip ini seringkali dimentahkan oleh kultur senioritas dan feodalisme yang masih mengakar di beberapa gugus depan. Pembina, atau bahkan senior, menjadi figur yang “sabda”-nya adalah hukum. Setiap pertanyaan dianggap sebagai pembangkangan, dan setiap ide baru dipandang sebagai ancaman terhadap tradisi.
Sikap “alergi terhadap diskusi” ini bisa muncul dalam berbagai bentuk:
Ketika praktik-praktik ini menjadi norma, maka peran pembina Pramuka telah bergeser dari seorang fasilitator dan pendidik menjadi seorang diktator. Mereka mungkin berhasil menciptakan pasukan yang rapi dalam upacara, tetapi mereka telah gagal total dalam menanamkan nilai-nilai demokrasi, keberanian berpendapat, dan kecerdasan dalam memecahkan masalah. Pramuka Anti Diskusi harus di singkirkan untuk kemajuan gerak organisasi.
Kegagalan untuk menumbuhkan budaya diskusi dalam Pramuka memiliki dampak jangka panjang yang merusak, tidak hanya bagi individu tetapi juga bagi masyarakat.
“Seorang pemimpin adalah seorang pedagang harapan.” – Napoleon Bonaparte
Kutipan ini, jika ditarik dalam konteks pembinaan, sangatlah relevan. Seorang pembina seharusnya menjadi “pedagang harapan” yang meyakinkan peserta didiknya bahwa ide-ide mereka berharga dan masa depan bisa mereka bentuk. Bukan menjadi pemadam harapan yang membuat mereka merasa kecil dan tidak berdaya. Harapan ini tumbuh subur dalam iklim diskusi yang terbuka, bukan dalam keheningan yang dipaksakan.
Fenomena Pramuka anti diskusi adalah sebuah penyimpangan dari tujuan luhur Gerakan Pramuka. Sudah saatnya para pembina/ andalan maupun golongan orang dewasa lainnya melakukan introspeksi mendalam. Apakah metode yang selama ini diterapkan sudah benar-benar memberdayakan atau justru membungkam? Apakah kita lebih bangga memiliki peserta didik yang patuh atau yang cerdas?
Mengubah budaya ini bukanlah pekerjaan mudah. Diperlukan keberanian dari para pembina untuk turun dari “takhta”-nya, membuka telinga lebar-lebar, dan siap menerima bahwa ide terbaik bisa datang dari anggota yang paling muda sekalipun. Diperlukan implementasi metode kepramukaan yang sesungguhnya, di mana pembina berperan sebagai ing ngarsa sung tulada (di depan memberi teladan), ing madya mangun karsa (di tengah membangun semangat), dan tut wuri handayani (di belakang memberi dorongan). Mendorong diskusi adalah bagian dari tut wuri handayani, memberikan kepercayaan kepada peserta didik untuk memimpin jalan mereka sendiri.
Pada akhirnya, keberhasilan sebuah gugus depan tidak diukur dari jumlah piala yang berjejer di lemari, banyaknya anggota yang berhasil menempuh garuda, melainkan dari kualitas alumninya/ purna pramuka. Apakah mereka menjadi warga negara cerdas yang aktif, kritis, dan kontributif bagi lingkungannya? Jawaban dari pertanyaan ini sangat bergantung pada ada atau tidaknya ruang diskusi yang sehat di tempat mereka pertama kali belajar tentang kepemimpinan dan pendidikan karakter.
Semoga artikel Pramuka Anti Diskusi ini bermanfat.
Yuk gabung Whatsapp Channel kami!
Follow kami di Telegram! & Instagram