Physical Address
304 North Cardinal St.
Dorchester Center, MA 02124
Physical Address
304 North Cardinal St.
Dorchester Center, MA 02124


Dari Tenda ke Teknologi – Coba pejamkan mata sejenak dan bayangkan kata “Pramuka”. Apa yang muncul di benak Anda? Kemungkinan besar adalah gambaran anak-anak berseragam cokelat di tengah lapangan, riang gembira dengan tepuk tangan khasnya, mendirikan tenda di perkemahan, atau sibuk membuat simpul tali. Ini adalah citra yang melegenda, citra yang membangun kenangan manis bagi jutaan orang Indonesia. Pramuka identik dengan kemandirian, disiplin, dan gotong royong.
Namun, di balik citra positif itu, ada sebuah stereotip yang diam-diam menancap kuat dan sulit dilepaskan. Ketika ekstrakurikuler lain di sekolah sibuk mencetak juara di Olimpiade Sains Nasional (OSN) atau Lomba Karya Tulis Ilmiah (LKTI), Pramuka sering kali dianggap sebagai “tim hore”. Anggotanya dipandang sebagai kuli serba bisa: jago mendirikan tenda, ahli memasak di alam liar, dan siap sedia menjadi panitia acara apa pun. Kemampuan fisik dan keterampilannya diakui, tapi kemampuan intelektualnya sering kali dipandang sebelah mata.
Kesan inilah yang perlu kita bongkar dan bangun kembali. Sudah saatnya Gerakan Pramuka tidak hanya menempa fisik dan karakter, tetapi juga mengasah otak dan melahirkan inovator.
Table of Contents
Mari kita gunakan analogi sederhana. Anggap saja kegiatan seperti berkemah, survival, dan keterampilan tangan (hasta karya) itu seperti es krim. Siapa yang tidak suka es krim? Rasanya enak, menyenangkan, dan memberikan kesegaran. Tapi, es krim adalah kudapan, bukan makanan pokok. Kita tidak bisa hidup sehat hanya dengan makan es krim setiap hari. Kita butuh nasi, sayur, lauk-pauk—nutrisi utama yang membangun tubuh.
Dalam konteks Pramuka, kegiatan berkemah dan keterampilan bertahan hidup itu adalah “es krim”-nya. Sangat penting untuk membangun ketangguhan, kreativitas, dan kerja sama tim. Namun, itu seharusnya menjadi materi pengayaan, bukan menu utama yang disajikan terus-menerus.
Makanan pokok yang harus menjadi nutrisi utama bagi anggota Pramuka di era digital ini adalah pendidikan berbasis sains, teknologi, rekayasa, dan matematika (STEM). Kompetisi dan materi yang berbasis karya ilmiah, pemecahan masalah, dan inovasi teknologi harus lebih ditekankan. Mengapa? Karena tantangan zaman tidak lagi cukup dijawab dengan simpul tali dan sandi morse saja.
Gerakan Pramuka tidak didirikan oleh orang sembarangan. Tokoh-tokoh sekaliber Sri Sultan Hamengku Buwono IX dan K.H. Agus Salim adalah para pemikir, diplomat, dan intelektual ulung pada masanya. Visi mereka dalam memprakarsai gerakan ini tentu jauh lebih agung daripada sekadar menciptakan barisan pemuda yang pandai bernyanyi di depan api unggun.
Mereka ingin membentuk manusia Indonesia yang utuh: yang tangguh raganya, mulia akhlaknya, dan cemerlang pemikirannya. Akan terlalu “receh” jika buah pikiran brilian mereka hanya bermuara pada kegiatan seremonial tanpa pendalaman intelektual yang signifikan. Visi mereka adalah menciptakan generasi yang mampu memberikan solusi nyata bagi bangsa. Di abad ke-21 ini, solusi tersebut tak bisa dilepaskan dari penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK).
Mengubah stereotip ini tentu bukan pekerjaan semalam. Namun, kita bisa memulainya dengan langkah-langkah sederhana dan nyata yang bisa diterapkan dari tingkat Gugus Depan (sekolah).
Selama ini, lomba Pramuka (seperti Lomba Tingkat) didominasi oleh PBB, sandi, smaphore, pioneering, dan sejenisnya. Ini perlu dipertahankan sebagai bagian dari tradisi, tetapi porsinya harus diimbangi. Mari perkenalkan kategori lomba baru yang lebih relevan:
Syarat Kecakapan Umum (SKU) dan Tanda Kecakapan Khusus (TKK) adalah kurikulum inti Pramuka. Inilah jantungnya. Saatnya memasukkan “denyut” teknologi ke dalamnya.
Inilah keunggulan terbesar Pramuka yang tidak dimiliki ekskul lain. Pramuka punya akses langsung ke “laboratorium” terbesar di dunia: alam.

Salah satu ironi terbesar bangsa kita adalah statusnya sebagai salah satu pasar teknologi terbesar di dunia, namun kita hanya menjadi konsumen yang gagap teknologi. Kita heboh dengan setiap rilisan ponsel baru, tetapi kita tidak berada di barisan depan yang menciptakannya. Kita selalu ketinggalan.
Wadah pembinaan generasi muda seperti Pramuka seharusnya menjadi garda terdepan untuk memutus rantai ini. Menjauhkan Pramuka dari teknologi sama saja dengan membiarkan generasi penerus kita tumbuh tanpa senjata utama untuk bertarung di panggung global.
Berkutat dengan sains dan IPTEK bukanlah kegiatan yang menyeramkan atau hanya milik anak-anak “kutu buku”. Mengetahui bagaimana alam semesta bekerja, merancang sebuah solusi, dan melihat karya kita bermanfaat bagi masyarakat adalah salah satu kegiatan paling menyenangkan dan memuaskan. Ini adalah perwujudan sejati dari Dasa Darma ke-2: “Cinta alam dan kasih sayang sesama manusia”. Apa bentuk cinta yang lebih besar selain menciptakan solusi untuk memperbaiki kualitas hidup sesama?
Pramuka harus berevolusi Dari Tenda ke Teknologi. Dari sekadar baris-berbaris di lapangan, menjadi barisan para penemu di laboratorium. Dari sekadar membangun menara pandang, menjadi perancang masa depan bangsa. Inilah cara kita menghormati visi para pendiri dan memastikan bahwa Pramuka tetap relevan, tidak hanya sebagai penjaga tradisi, tetapi juga sebagai pencetak generasi emas Indonesia.
Yuk gabung Whatsapp Channel kami!
Follow kami di Telegram! & Instagram