Aktif mengikuti kegiatan pramuka tentu harus mengetahui mengenai sejarah terbentuknya pramuka. Sejarah pramuka di Indonesia tidak terlepas dari peran seorang Bapak Pramuka Indonesia yaitu Sri Sultan Hamengkubuwana IX. Sri Sultan Hamengkubuwana IX (disingkat

Kartu Ucapan HUT RI 72 Tema Pramuka

Sri Sultan Hamengkubuwana IX

menjadi Sri Sultan HB IX) lahir di Yogyakarta, 12 April 1912. Beliau merupakan Wakil Presiden Indonesia ke-2 pada era Presiden Soeharto. Sri Sultan HB IX juga merupakan Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta pertama dan menjadi Sultan Yogyakarta ke-9.

Diawali di usianya yang masih muda, beliau sudah aktif mengikuti organisasi pendidikan kepanduan. Ketika itu pada tahun 1960-an, Sri Sultan HB IX didaulat untuk menjadi Pandu Agung atau disebut dengan Pemimpin Kepanduan. Pada tahun tersebut, lahirlah beberapa organisasi kepanduan di Indonesia. Presiden Soekarno yang saat itu menjabat sebagai Presiden RI kerap berkonsultasi dengan Sri Sultan HB IX mengenai penggabungan organisasi kepanduan serta rencana mendirikan Gerakan Pramuka di Indonesia.

Sri Sultan HB IX kemudian dinobatkan menjadi Bapak Pramuka Indonesia mengingat peranan dan jasa beliau di dunia kepanduan (kepramukaan) telah dilakukan jauh sebelum Gerakan Pramuka lahir pada tahun 1961. Pada tanggal 14 Agustus 1961 (yang selanjutnya diperingati setiap tahun sebagai Hari Pramuka), dilakukanlah penganugerahan Panji Kepramukaan, pelantikan Mapinas (Majelis Pimpinan Nasional), Kwarnas, dan Kwarnari Gerakan Pramuka.

Sri Sultan Hamengkubuwana IX

Sri Sultan Hamengkubuwana IX

Sri Sultan HB IX menjabat sebagai Ketua Kwarnas (Kwartir Nasional) Gerakan Pramuka pada masa bakti 1961-1963, 1963-1967, 1967-1970, dan 1970-1974 kemudian dinobatkan sebagai Ketua Kwarnas terlama urutan ke-2 yang menjabat selama 13 tahun setelah Letjen. Mashudi yang menjabat Ketua Kwarnas selama 15 tahun.

Berkat jasa dan peranannya membangun serta mengembangkan Gerakan Pramuka Indonesia dari masa kepanduan hingga beralih ke masa kepramukaan, Sri Sultan HB IX mendapatkan beberapa penghargaan ternama. Selain mendapatkan beberapa penghargaan dari luar negeri, pada tahun 1973 Sri Sultan HB IX juga mendapatkan penghargaan Bronze Wolf Award dari World Organization of the Scout Movement (WOSM). Bronze Wolf Award merupakan penghargaan tertinggi dari WOSM yang diberikan kepada orang-orang yang berperan besar dalam mengembangkan Gerakan Pramuka.

Penghargaan yang diraih oleh Sri Sultan HB IX serta peranan yang besar terhadap Gerakan Pramuka mengantarkan beliau sebagai Bapak Pramuka Indonesia. Pengukuhan ini dilakukan pada saat Musyawarah Nasional (Munas) Gerakan Pramuka pada tahun 1988 yang berlangsung di Dili Timor Leste. Pengangkatan ini disahkan melalui Surat Keputusan Nomor 10/MUNAS/88 tentang Bapak Pramuka.

Prestasi dan sumbangsihnya terhadap bidang-bidang yang terkait dengan pendidikan di luar Gerakan Pramuka juga mengantarkannya meraih beberapa penghargaan antara lain sebagai Pahlawan Nasional Indonesia sehingga fotonya tercetak di uang kertas Republik Indonesia. Aktifnya Sri Sultan HB IX di bidang politik menjadikan beliau sebagai Menteri Negara pada Kabinet Sjahrir III, pada Kabinet Amir Sjarifudin I dan II, serta pada Kabinet Hatta. Sri Sultan HB IX juga pernah menjabat sebagai Menteri Pertahanan/Koordinator Keamanan Dalam Negeri. Keikutsertaannya terhadap perang dalam Revolusi Nasional Indonesia dan mengikuti Agresi Militer Belanda II serta Serangan Umum 1 Maret 1949. Selain itu, Sri Sultan HB IX juga menerima Silver World Award dari Boy Scouts of America. Berkat pemikirannya yang cemerlang, Gerakan Pramuka Indonesia semakin baik perkembangannya hingga kini sehingga sejarah kepramukaan di Indonesia tidak dapat dipisahkan dari sosok Sri Sultan HB IX yang melekat kuat di generasi penerusnya. @pramukaupdate